Home

Ada Apa deng Tahun Baru

Tahun 1442 H telah berlalu, kita masuki tahun baru 1443 H. Suatu kegembiraan karena kita telah melewati tahun 1442 H ini dengan selamat. Meski begitu banyak persoalan yang kita hadapi, namun atas pertolongan Allah Swt kita telah berhasil melaluinya. Hanya saja, satu hal yang perlu kita re-check adalah: (1) apakah waktu yang telah berlalu banyak kita gunakan untuk kebaikan atau sebaliknya? (2) apakah kita sudah siap dengan perencanaan-perencanaan di tahun depan? (3) apakah kita akan tetap nyaman dengan kondisi yang ada, atau sebaliknya perlu keluar dari zona nyaman yang selama tahun lalu kita ikuti?

Untuk mengetahui hal itu semua, kita harus melakukan introspeksi. Yaitu, melihat “ke dalam” dengan jujur dan ikhlas, tentang apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Sebagai manusia biasa, kita tentu tidak bisa lepas dari dosa dan kesalahan. Tidak ada manusia yang bisa terlepas dari itu bukan? Kita sangat maklum, karena status kita yang hanya “jalma lumrah”, manusia biasa.

Tapi, konsisten dengan kesalahan kita tentu bukan pilihan yang bijak. Allah Swt melalui Rasulullah Saw telah memberikan banyak petunjuk agar kita menjadi manusia yang baik, baik dalam pandangan Allah Swt maupun dalam penglihatan manusia. Maka, introspeksi dan evaluasi diri merupakan satu langkah baik untuk membuat perbaikan diri.

Bagaimana caranya?

Pertama, ketika melihat diri, khususnya dalam kaitannya dengan ibadah kita harus melihat diri kita dengan konteks kekurangannya. Sepantasnya kita merasa kurang dalam beramal soleh seperti kurang bagusnya kita dalam shalat, kurang seringnya kita membaca istighfar, kurangnya kita bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, kurangnya sedekah dan perhatian kita pada orang miskin, dan seterusnya.

Bukankah ini berarti menjelekkan diri kita sendiri? Tentu perspektifnya bukan itu, tetapi pada upaya menghindari sombong, riya’, dan sum’ah. Karena, tidak patut kiranya kita menyombongkan amal ibadah kita dihadapan Allah Swt.

Dengan kata lain, ketika penyadaran itu telah ada, kita akan tambah bersemangat dalam beribadah. Kita akan senantiasa merasa kurang dan kurang dalam beribadah.

Kedua, tempatkan diri biasa-biasa saja di hadapan sesama manusia. Maksudnya, jangan merasa lebih sholeh dibanding orang lain. Kita tidak pernah tahu ibadah siapa yang paling ikhlas, yang paling khusuk, atau ibadah siapa yang diterima oleh Allah Swt. Meskipun jubah kita lebih panjang, ibadah kita secara kuantitas tampak lebih banyak, namun secara kualitas hanya Allah Swt yang dapat menilai.

Berlibur, Buat Siapa?

Dua puluh satu Juni 2021 adalah hari bertama liburan kenaikan kelas. Para siswa sekolah dasar dan menengah bersiap mengisi liburan. Ke pantai, danau, gunung, dan ketempat-tempat wisata lainnya merupakan destinasi yang menjadi favorit para anak-anak remaja pada umumnya. Tujuan utamanya mencari angel terbaik untu swafoto mereka.

Demikian juga para orang tua dan masyarakat pada umumnya. Jika mengunjungi satu tempat, yang paling tidak boleh ketinggalan adalah handphone, tongsis, bahkan tripod.

Dulu, sebelum handphone menguasai kita, jika akan liburan kita akan bersiap dengan makanan, minuman, tikar, dan serangkaian acara. Kita datang ke tempat wisata, menikmati keindahan alam, bercengkerama dengan teman dan keluarga. Disitu, kita bisa bercerita banyak hal secara santai materi-materi menyenangkan, menggelikan, bahkan “memalukan”.

Beda dulu beda sekarang. Berlibur adalah koleksi swafoto. Datang, mencari tempat yang terindah, posisi yang pas, mencari “bentuk wajah” yang paling sesuai di kamera, dan jepret sana jepret sini. Kemudian masing-masing melihat fotonya sendiri, men-share di media sosialnya sendiri, tertawa-tawa dan nge-chat dengan teman nun jauh disana. Bagaimana dengan teman kita “satu rombongan” yang sedang berlibur?

Ternyata, mereka juga melakukan hal yang sama. Dengan “kronologi” kedatangan dan kegiatan yang sama, pada akhirnya mereka juga “senyam senyum dengan teman-teman dunia maya nun jauh disana? Terusss, mengapa mereka liburan bersama?

Pergeseran nilai yang sedang kita lihat adalah representasi kehidupan nyata kita. Hidup di dunia semu menjadi sesuatu yang lebih menarik di banding dunia nyata. Kemajuan teknologi, seringkali membuat kita merasa dekat dengan orang-orang yang jauh, tetapi sebaliknya menjauhkan kita dengan orang-orang yang dekat dan bersama kita.

Dunia maya membuat kita lebih mudah belanja “online” dengan toko yang mungkin jaraknya lebih dari 100 kilometer dari rumah kita. Dibanding ke pasar, yang mungkin hanya 3 atau 4 kilometer dari kita. Cukup dengan order, approve, dan transfer, maka besuk barang sudah siap di depan rumah kita. Bahkan, dengan berbagai platform transportasi online, meskipun hanya untuk membeli nasi goreng, kita lebih mudah belanja di restoran yang jaraknya cukup jauh dari rumah kita. Sementara, tetangga kita juga berjualan dengan jarak yang kurang dari satu kilometer saja.

Jika demikian, liburan kita buat apa? Buat produksi foto atau membangun kedekatan dengan teman liburan kita? Buat refreshing atau sekedar ingin mengumpulkan like dan follower dari akun media sosial kita?

Konsep Belajar di Bayanul Azhar

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, Bayanul Azhar memiliki konsep dalam menerapkan peran dan fungsinya, baik fungsi pendidikan, pembimbingan, dan pembelajaran. Konsep-konsep sederhana itu berusaha diterapkan dengan sebaik-baiknya, dengan tujuan memberikan pembelajaran yang bermakna pada siswa. Beberapa konsep pembelajaran yang diyakini dan dilaksanakan di Bayanul Azhar adalah sebagai berikut

a. Setiap tempat adalah ruang kelas

Setiap tempat adalah ruang kelas, sehingga belajar tidak harus di dalam ruang kelas. Anak-anak dapat saja belajar di masjid, di mushola, di halaman, di taman, di bawah pohon rindang, di balai desa, bahkan di pasar. Outdoor classroom merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang sangat disukai anak. Dengan belajar di luar ruang anak-anak dapat bergerak bebas, mendapatkan sinar matahari pagi yang cukup, udara yang segar, sehingga belajar tidak lagi menjadi kegiatan yang membosankan.

b. Yang belajar adalah siswa

Setiap guru harus menyadari bahwa yang sedang belajar adalah siswa. Guru merupakan pembimbing dan penghantar pembelajaran. Sehingga aktivitas utama dalam kegiatan pembelajaran adalah aktivitas siswa. Kita sering menyebutnya dengan student centered. Siswa adalah pihak yang seharusnya paling aktif dalam kegiatan pembelajaran. Para guru hanya memfasilitasi, mengarahkan, dan membantu siswa yang kesulitan.

c. Learning by doing

Belajar adalah kegiatan yang digunakan untuk menciptakan pengalaman bermakna bagi siswa. Dengan melakukan sesuatu, siswa akan tetap mengingat. Menghafalkan ukuran berat dan panjang misalnya, siswa dapat saja menghafalkan persamaan ukurannya, sekian meter sama dengan sekian senti. Tapi seberapakah sekian meter itu dalam wujud ukuran yang nyata? Diperlukanlah praktek mengukur serta mengkonversikan ukuran ke dalam satuan yang berbeda. Disinilah learning by doing (belajar dengan cara mengerjakan) akan sangat bermakna.

d. Pembiasaan

Pembiasaan dilakukan untuk menciptakan budaya. Budaya inilah yang menciptakan karakter. Di sekolah ini anak-anak dibiasakan berdo’a sebelum makan, mengucapkan salam ketika bertemu, berdo’a sebelum belajar, sholat berjamaah tepat waktu, membaca al Qur’an setiap pagi, dan sebagainya. Semuanya, dimaksudkan agar tercipta karakter yang rajin beribadah, menghormati guru, menyayangi teman, senang dengan al Quran, dan sebagainya.

e. Belajar substantif

Di sekolah ini, diupayakan para guru mengutamakan pembelajaran yang substantif. Ketika mengerjakan soal misalnya, yang utama adalah para siswa dapat menjelaskan maksud dari jawabannya. Bisa jadi, teks yang dibuat siswa tidak sama dengan teks yang dibuat guru, tetapi asalkan substansinya sama, maka it’s okay. Hal ini dimaksudkan agar siswa memahami makna secara lebih utama daripada memahami teksnya.

Aswaja di Bayanul Azhar

Bayanul Azhar adalah sebuah lembaga pendidikan yang berada di bawah pembinaan LP Ma’arif. Sebagai sekolah Ma’arif lembaga ini mengusung misi diniyah ahlussunah wal jamaah an nahdliyah. Oleh karena itu, salah satu materi yang diberikan kepada para siswa mulai kelas 4 Sekolah Dasar adalah bidang studi Aswaja dan Ke-NU-an. Di dalam bidang studi ini, para siswa mempelajari sejarah dan amaliah NU dan Aswaja. Tujuannya agar para peserta didik tetap berada di rel yang benar yaitu Islam Ahlussunah Wal Jamaah.

Tidak saja melalui pembelajaran, amaliah keseharian yang diterapkan di sekolah ini juga mengacu amaliah nahdliyin sebagaimana diajarkan oleh para kiai. Sholat dengan bacaan basmallah yang jahr, membaca qunut pada shalat Subuh, menyiapkan shalat dengan bacaan “usholli”, dan sebagainya merupakan bagian-bagian yang juga diajarkan dan diterapkan di sekolah ini. Selain itu, belajar menjadi imam tahlil dan istighotsah, bersholawat, jama’ah shalat dhuha secara rutin, juga merupakan hal-hal yang dibiasakan di sekolah ini.

K. Tajuddin Sy berfoto bersama Santri SMPIT Tahfidzil Qur’an

Pimpinan Yayasan Bapak K. Tajuddin Sy, merupakan salah satu alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Selain itu, Tim Penguatan Aswaja juga dilaksanakan oleh para asatidz yang merupakan lulusan pondok pesantren seperti Ustadz Supangat alumin Ponpes Darul Falah Sumbergempol, Ustadz Arif Wahyudi alumni PPHM Ngunut, Ustadz Ardian Hamna alumni Ponpes Lirboyo Kediri, Ustadz Alfin alumni Ponpes Lirboyo Kediri, Ustadzah Harir Al Hafidz alumni PPHM Ngunut, dan ustadz serta ustadzah lainnya yang kapasitasnya sudah tidak diragukan lagi.

Mengapa Sekolah di Bayanul Azhar

Bayanul Azhar adalah sekolah Islam dibawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Di tahun 2009, sekolah ini merupakan salah satu sekolah unggulan yang merupakan pilot project dari LP Ma’arif Jawa Timur. Deklarasi sebagai sekolah unggulan dituangkan dalam prasasti yang ditandatangani oleh Alm. KH. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU pada saat itu.

Aktivitas Pembelajaran di Kelas ICP

Secara umum, sekolah ini mengintegrasikan beberapa kurikulum sekaligus, yaitu:

  1. Kurikulum Nasional 2013.
  2. Kurikulum Madrasah Diniyah Pondok Pesantren
  3. Kurikulum Cambridge (Cambridge International Curriculum) khususnya bagi peserta didik yang mengikuti program International Class Program (ICP).

SD Islam Bayanul Azhar merupakan salah satu dari 16 sekolah percobaan penerapan Kurikulum 2013 sehingga sekolah ini menerapkan K13 sejak tahun 2013. Sehingga, ketika ratusan sekolah lain masih menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) 2006 pada saat itu, sekolah ini sudah menguji coba penerapan K13 dan menerapkannya sampai saat ini dengan berbagai macam inovasi dan penyeseuaian.

Sebagai lembaga yang diberada dibawah Yayasan Pondok Pesantren Bayanul Azhar, sekolah ini juga menerapkan pembelajaran diniyah ala pondok pesantren. Sejak kelas 1 para siswa telah dikenalkan dengan hafalan do’a-do’a, surat-surat pendek pada Al Qur’an Juz 30, menulis huruf arab (khot) dan pembiasaan ibadah. Mulai kelas 3 peserta didik telah juga dikenalkan dengan “Arab Pegon” yaitu tulisan dengan haruf Arab dengan bacaan bahasa Jawa sebagaimana lazim digunakan di pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada kelas 4 siswa dikenalkan dengan “makno gandhul” yaitu sistem pemaknaan kitab-kitab klasik dengan arti yang miring ke bawah.

Sebagai penguatan dan pembekalan kemampuan berbahasa Inggris dan Bahasa Arab, para siswa dikenalkan dengan pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Arab. Khusus para siswa yang mengikuti program International Class Program (ICP) mereka mengikuti pelajaran Bahasa Inggris, Science, dan Math dengan menggunakan buku-buku berbahasa Inggris yang disadur dari Cambridge International Curriculum (CIC).

Tungga apa lagi, AYO BELAJAR DI BAYANUL AZHAR!

Visi dan Misi

  • Visi

Terujudnya peserta didik yang bertaqwa, berakhlakul karimah, cerdas, trampil, dan kreatif.

  • Misi
    • Melaksanakan pembiasaan dan pembelajaran yang beroriantasi pada pendidikan agama Islam ahlussunah waljamaah.
    • Melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada pendekatan saintifik dengan model pembelajaran yang senantiasa berkembang dan inovatif.
    • Melaksanakan pembelajaran yang berorietnasi pada life skill dan mengacu pada pendekatan kontekstual dan problem solving.
    • Mengembangkan budaya kreatif dengan menerapkan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan.

Sejarah Singkat

Sekolah Dasar Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon Kecamatan Sumbergempol berdiri sejak tahun 2002. Yayasan yang menaungi lembaga ini adalah Yayasan Pendidikan dan Dakwah “Bayanul Azhar” yang didirikan sejak tahun 1998. Semula, Yayasan Pendidikan dan Dakwah “Bayanul Azhar” mendirikan Taman Kanak-kanak dengan nama Taman Kanak-kanak Islam “Al Azhar”.  TK Islam “Al Azhar” didirikan tahun 1998 dengan murid pertama hanya 9 orang.

Lembaga TK Islam “Al Azhar” dan Yayasan Pendidikan dan Dakwah “Bayanul Azhar” didirikan oleh beberapa tokoh yang sangat kompeten dengan pendidikan Islam, yaitu KH. Gufron Ali dan KH. Mahmud Ali dan beberapa tokoh sepuh lainnya. Beliau-beliau ini kemudian menugaskan pada 2 orang aktivis pendidikan Islam di desa tersebut yaitu Bapak Tajuddin dan Drs. Atim untuk mengelola lembaga taman kanak-kanak dan dibekali tanah wakaf seluas kurang lebih 400 ru. Di tanah itulah dulunya didirikan bangunan taman kanak-kanak yang pertama, dengan luas gedung hanya 4 x 6 meter, dengan atap bekas bangunan rumah penduduk yang telah tidak terpakai.

Berkat komitmen yang kuat dan kerja keras dari para guru dan pengurus yayasan, dari tahun ke tahun jumlah siswa taman kanak-kanak senantiasa bertambah. Bertambahnya jumlah siswa adalah berkah dan hasil kerja keras tetapi menyisakan pekerjaan berat yaitu kurangnya sarana dan prasarana terutama gedung sekolah. Oleh karena itu, para pengurus yayasan bekerja keras mencari bantuan dari berbagai pihak untuk pembangunan gedung sekolah dan fasilitas pendukung lainnya.

Pada tahun 2002, Yayasan Pendidikan dan Dakwah “Bayanul Azhar” mendirikan SD Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon Kecamatan Sumbergempol dengan siswa pertama sejumlah 9 orang juga. Meskipun jumlah siswa taman kanak-kanak cukup banyak, tetapi tidak semua orang tua bersedia menyekolahkan anak mereka di sekolah yang baru berdiri. Kembali para guru dan pengurus yayasan harus bekerja keras untuk mengelola dan memperbaiki sarana dan prasarana sekolah.

Saat ini, SD Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon telah meluluskan sebanyak 7 angkatan. Ratusan siswa telah meninggalkan SD Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada tahun ajaran 2017/2018 yang lalu, jumlah siswa SD Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon mencapai 364 orang, dibagi menjadi 17 rombongan belajar (rombel). Pada saat penulis melakukan wawancara dengan kepala SD Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon, di sekolah ini sedang di adakan penerimaan siswa baru dan sampai ditutupnya penerimaan siswa baru SD Islam “Bayanul Azhar” Bendiljati Kulon mendapatkan 68 siswa, yang datang dari berbagai desa di Kecamatan Sumbergempol, Ngunut dan Kalidawir.

Sekolah Ramadhan

Tujuan dilaksanakannya puasa Ramadhan adalah agar orang-orang beriman meningkat derajatnya menjadi orang yang bertakwa. Dalam Surah Al Baqarah ayat 183 Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Pertanyaannya adalah apakah setiap orang yang berpuasa dapat meraih derajat takwa?

Inilah yang kemudian harus menjadi bahan refleksi dan review kita. Penilaian utama dari puasa kita tentu saja miliki Allah Swt. Bukan kita pula yang bisa menilainya. Tapi, paling tidak apakah puasa kita sudah “sah” secara syariat? Jika sudah sah, apakah puasa kita termasuk golongan puasa aam, khowas, atau khowasul khowas? Wallahu a’lam.

Paling tidak kita semua tahu bahwa Ramadhan merupakan satu sekolah atau madrasah tempat kita memperbaiki diri. Umumnya, ibadah kita meningkat drastis pada bulan ini. Sementara ketakutan kita untuk melanggar syariat atau mengerjakan maksiat juga semakin berkurang. Ketika ada teman yang mengajak kita “nyrempet-nyrempet” maksiat saja, kita akan mengatakan, “Jangan-jangan, kita kan puasa!”

Ramadhan maksimal hanya 30 hari. Tetapi masih banyak hari-hari yang insya Allah akan kita lalui. Ramadhan ini telah menjaga kita, mendampingi kita, dan mengajak kita menjadi orang baik. Tetapi setelah Ramadhan berlalu, tetapkah kita menjadi baik? Apakah kita tetap akan suka berlama-lama membaca Qur’an, atau tetap bersemangat bersedekah untuk membantu sesama, atau begitu bergairah mengikuti kegiatan ta’lim.

Jika kita tetap bisa mempertahankan kondisi itu, ini berarti bahwa ujian kita lulus. Kita telah di training selama satu bulan oleh Ramadhan, dan kita telah menjadi lebih baik karenanya. Tetapi sebaliknya, jika kita kembali lagi menjadi kita yang dulu, yang malas sholat malam, jarang “nderes” al Qur’an, ogah-ogahan ke masjid, pelit dalam bersedekah, dan sebagainya, maka itu berarti kita hanya memanfaatkan Ramadhan sebagai “bulan diskon” dan “bulan panen pahala”. Terus, ya ndak nyambung-nyambung amat dengan tujuan puasa Ramadhan sebagaimana disebutkan di atas.

Mempertahankan Ramadhan

Waktu terus berlalu. Ramadhan juga akan berlalu, berganti dengan bulan Syawal. Berbagai fasilitas dan keistimewaan bulan ini akan lepas dari jangkauan kita. Kita akan kembali dalam kondisi normal, sebagaimana bulan-bulan selain Ramadhan.

Namun, value Ramadhan tetap dapat dipertahankan. Gairah beribadah dan romantisme kedekatan hubungan kita dengan Allah Swt tetap dapat kita lakukan. Caranya, ya dengan melanggengkan ibadah-ibadah yang sering kita lakukan dalam bulan Ramadhan sesuai kemampuan kita. Kita lanjutkan romantisme hubungan kita dengan sang Khalik dengan tetap membaca al Quran, melanggengkan sholat malam, memperbanyak sedekah, bahkan dengan melanjutkannya dengan puasa sunnah. Ibadah-ibadah itu adalah ibadah istimewa yang bisa meningkatkan grade kita dihadapan Allah Swt. (ans)

Karakter Pendidikan Abad 21

Sebagian kita, mungkin masih mengingat kelas-kelas di sekolah kita, dengan bangku yang banyak berlubang, coretan dimana-mana, papan tulis warna hitam yang sudah lusuh dan tidak hitam lagi, namun masih digunakan untuk mengajar oleh bapak dan ibu guru kita. Kapur berserakan dimana-mana, sambil sesekali di lempar pada anak yang tidak mau memperhatikan penjelasan bapak dan ibu gurunya.

Ketika kita dewasa, belajar di bangku kuliah, dunia sudah banyak berubah. Kita tidak lagi mendapati blackboard, karena telah berganti menjadi whiteboard. Tidak ada lagi kapur tulis, tergantikan oleh board marker yang memang lebih praktis dan bersih.

Selanjutnya, memasuki kuliah pasca sarjana, kelas kita berubah lagi. Bangku-bangku tidak lagi berupa meja dan kursi, berganti dengan kursi berlengan dengan tempat menulis kecil didepannya, kelas sudah ber-AC, LCD proyektor ada di setiap ruangan, sehingga pembelajaran dapat dilakukan menggunakan laptop dengan menampilkan berbagai media pembelajaran berbasis video, slide, animasi, dan gambar bergerak lainnya.

Belum lama menikmati hal itu, kita sudah harus beradaptasi dengan e-learning, dimana siswa dan guru tidak harus berada pada satu tempat yang sama. Anak-anak bisa membuka laptop atau smarphone mereka di rumah, bapak dan ibu gurunya berada di tempat lain sambil di depan perangkat digital mereka. Tanpa sadar, kehidupan digital inilah yang sekarang harus kita lalui bersama.

Fenomena Pendidikan Abad 21

Disrupsi telah terjadi. Perubahan besar yang mengubah tatanan kehidupan kita harus kita hadapi. Ini bukan pilihan, tetapi suatu keniscayaan yang harus kita hadapi bersama-sama.

Dunia pendidikan tidak bisa lepas dari itu. Menurut Pujirianto (2019) dunia pendidikan kita saat ini sudah mengalami fenomena disrupsi yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut.

  1. belajar tidak lagi terbatas pada paket-paket pengetahuan terstruktur namun belajar tanpa batas sesuai minat (continuum learning),
  2. pola belajar menjadi lebih informal,
  3. keterampilan belajar mandiri (self motivated learning) semakin berperan penting, dan
  4. banyak cara untuk belajar dan banyak sumber yang bisa diakses seiring pertumbuhan MOOC (massive open online course) secara besar-besaran.

Para guru sudah tidak lagi boleh mengandalkan buku paket. Anak-anak sudah mampu mengakses big data dimana semua sumber belajar tersedia dengan akses yang sangat cepat. Para guru sudah tidak lagi melulu harus berfokus pada materi pelajaran, tetapi juga ketrampilan mengakses, mengolah, mengirim, dan mendekonstruksi pengetahuan yang bersumber pada big data tersebut.

Oleh karena itu, para guru harus siap dengan “desain pembelajaran” berbasis teknologi infomasi yang menurut Pujirianto (2019), paling tidak harus meliputi beberapa komponen, yaitu : (1) aktifitas instruktur/guru/ mentor/fasilitator, (2) desain pembelajaran online, (3) data sebagai sumber belajar (big data), dan (4) strategi pembelajaran online, dan (5) unjuk kerja peserta didik.

Pembelajaran Abad 21, sudah harus berorietasi pada beberapa hal, yaitu:

  1. berpikir kritis dan penyelesaian masalah (critical thinking and problem solving). Pembelajaran tidak harus selalu berupa hafalan-hafalan rumus, tetapi juga dikontektualisasikan dengan masalah-masalah kehidupan sehari-hari.
  2. Kreatifitas dan inovasi (creativity and innovation), dimana para siswa tidak harus menyelsaikan persoalan berbasis textbook, kreativitas dan inovasi sangat dihargai, meskipun substansi dan essensinya harus tetap dijaga. Kreativitas tidak hanya menciptakan yang baru, tetapi juga meningkatkan meningkatkan nilai tambah benda yang sudah ada.
  3. Pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding). Sejak era globalisasi digaungkan, kehidupan manusia semakin membutuhkan pemahaman lintas budaya. Pergaulan sudah tidak lagi terbatas pada satu desa, satu suku, atau bahkan satu negara. Dengan kemudian transportasi dan komunikasi kita dapat dengan mudah bergaul dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.
  4. Komunikasi, literasi informasi dan media (media literacy, information, and communication skill). Keterampilan komunikasi dimaksudkan agar peserta didik dapatbmenjalin hubungan dan menyampaikan gagasan dengan baik secara lisan, tulisan maupun non verbal.
  5. Komputer dan literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (computing and ICT literacy). Literasi TIK mengandung kemampuan untuk memformulasikan pengetahuan, mengekpresikan diri secara kreatif dan tepat, serta menciptakan dan menghasilkan informasi bukan sekedar memahami informasi.
  6. Karir dan kehidupan (life and career skill). Peserta didik perlu memahami tentang pengembangan karir dan bagaimana karir seharusnya diperoleh melalui kerja keras dan sikap jujur.

Megengan, Sebuah Kritik dan Inovasi!

Sudah jadi kebiasaan orang Jawa, jika akan mengerjakan pekerjaan yang berat atau menghadapi sesuatu yang “besar” selalu mengedepankan do’a. Oleh karena itu, setiap akan mengerjakan sesuatu, setiap akan mengadakan sesuatu, atau setiap menerima nikmat yang besar, akan diawali dan diiringi dengan do’a. Tidak saja do’a, biasanya juga diiringi dengan bersedekah, yang diberikan kepada tetangga, keluarga, dan kerabat.

Jika dirunut dari awal, sejak manusia masih di dalam kandungan ibundanya, do’a dan sedekah selalu dilaksanakan. Ketika ibu-ibu hamil 3 “lapan” (36 hari), keluarga mengadakan “telonan”. Ketika sudah mencapai tujuh “lapan”, akan ada acara “tingkeban”. Pada saat hari H jabang bayi dilahirkan ada brokohan. Ketika bayi berusia 3 “lapan”, ada telonan juga, yang diteruskan pitonan, setaunan, pada saat mau khitan, mau nikah, dan seterusnya. Sampai sudah meninggalkan senantiasa diiringi dengan do’a dan sedekah.

Demikian juga ketika akan menghadapi pekerjaan-pekerjaan besar, seperti ketika anak mau ujian, mau mengikuti ujian sekolah atau ujian untuk menduduki suatu pekerjaan, mau berangkat haji, dan sebagainya. Termasuk diantara hal yang dianggap istimewa dan besar, sehingga perlu diawali dengan do’a dan sedekah, adalah datangnya bulan Ramadhan.

Bagi muslim Jawa, bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa dan harus mendapatkan perlakuan khusus. Menjalankan puasa satu bulan penuh juga bukan hal yang ringan. Jika tanpa pertolongan dan ridlo Allah Swt, bisa saja ibadah puasa yang dijalankan tidak berhasil. Oleh karena itu, dalam menghadapi puasa Ramadhan, perlu do’a dan sedekah khusus yang kemudian disebut “megengan”.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinantikan setiap muslim. Di bulan ini pintu rahmat dan maghfirah dibuka lebar-lebar oleh Allah Swt. Semua amal dilipatgandakan pahalanya, rahmat dan kasih sayang Allah Swt ditebarkan ke seluruh dunia. Hati-hati yang tertutup banyak yang dibuka, gairah untuk melakukan ibadah menyala-nyala. Bukankah hal ini merupakan hal besar yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya? Bukankah umat Islam sangat patut bila menyiapkan diri secara khusus untuk menyambutnya? Bukankah kita patut merasa sangat gembira dengan datangnya sayyidusuhur itu?

Megengangan bukan “ibadah baru”, apalagi menambah syariat baru. Ia hanya kearifan lokal untuk mengejawantahkan do’a dan sedekah. Jika tidak melaksanakan “megengan” pun tidak dosa. Sehingga aneh, jika ada yang menganggap megengan sebagai ibadah baru. Yang jelas, megengan diniatkan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berdo’a dan bersedekah, agar Allah Swt memberikan kemudahan menjalankan ibadah puasa. Apalagi, dengan saling mengundang, silaturrahim antar tetatngga pun tercipta. Sehingga, keguyuban dapat tercipta di lingkungan.

Paling tidak, kita patut menelaah ucapan orang-orang yang “ngajatne” megengan. Di dalam ucapan-ucapan beliau selalu tertera bahwa nasi, lauk pauk, dan makanan lain yang sebenarnya simbolisasi do’a-do’a, semuanya ditujukan sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad, para keluarga, para sahabat, dan orang-orang sholeh. Didalamnya juga ada permintaan mudah-mudahan dengan sedekah yang diberikan, keluarga senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin, kekuatan iman dan Islam, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan sempurna tanpa ada halangan suatu apa.

Kritik untuk “Megengan”

Dalam konteks niat dan kegiatannya, “megengan” memang luar biasa. Tetapi, kita juga perlu menelaah dan mengkritisi megengan dalam konteks yang lain.

Biasanya megengan dilakukan pada waktu yang hampir bersamaan. Setiap keluarga melaksanakan, saling mengundang, saling berkirim makanan, dan yang berikutnya terjadi adalah “udan berkat”. Makanan menumpuk tidak termakan, dengan model dan komposisi yang mirip, yaitu: nasi, sambal goreng, serundeng, apem, ketan, dan ayam. Sehingga, untuk mengkonsumsinya pun kadang-kadang agak bosen.

Alhasil, “berkat”nya terabaikan. Hanya diperuntukan makanan ayam, dikeringkan untuk menjadi nasi aking, atau dibuang begitu saja. Disinilah kita harus berhati-hati. Dalam artian, aktivitas “pasca genduren” pun harus benar-benar diperhitungkan agar tidak menjadi mubadzir.

Kayaknya, sudah saatnya memformulasikan megengan dengan inovasi, seperti: sedekah dalam bentuk buah-buahan, sembako, atau bahkan uang. Dengan tujuan, agar sisi kemanfaatannya dapat lebih ditingkatkan. Apalagi, jika bisa diformulasikan dengan megengan bersama dalam satu tempat, “berkat” dibuat secukupnya, sisa uang untuk kegiatan mushola, masjid, atau madrasah. Mungkin akan lebih “sempulur” kebaikannya! (ans)